Rabu, 03 September 2008
Bisikan Sang Pecinta
Engkaulah jiwa tuhan yang merebak dimana – mana. Engkau lebih gagah ketimbang waktu. Apakah engkau ingat saat pertama kita berjumpa, kala cahaya jiwamu menyinari kita, dan dewi cinta menngitari, mendendangkan lagu jiwa?Adakah engkau masih ingat ketika kita duduk dibawah rindang dedaunan yang menyembunyikan kita dari mata kemanusiaan, sebagaimana payung agung yang manudungi rahasia hati dari segala luka?Ingatkah engkau saat kubisikkan selamat tinggal, lalu engkau menghadiahiku ciuman surga di bibirku? Ciuman itu mencerahkanku akan suatu ajaran bahwa bibir yang bermahkotakan gairah cinta mampu menguak misteri langit yang tak terkatakan oleh gemulai lidah.Ciuman itu mengakrabkanku pada bisikan agung yang menyerupai nafas maha kuasa yang telah memasukkan nyawa kepada segumpal tanah hingga menjadi manusia.Nafas itu telah menghantarkan kita memasuki gerbang spiritual, menghanturkan keagungan jiwaku. Ia tetap bertapa di sana sampai kita bertemu kembali.Masih kuingat sewaktu engkau menciumku. Dengan air mata yang membanjiri pipi, engkau berbisik, “Raga memang harus sering terpisah demi kepentingan duniawi, sekalipun hidup itu sendiri kian menjauh akibat kepentingan duniawi Duhai jiwaku yang lain, di manakah engkau? Apakah engkau tetap bangkit di kesunyian malam untuk menikmati detak jantung dan deru nafasku dalam semilir angin suci.Apakah engkau masih mengkhidmati wajahku dalam semesta kenanganmu? Itulah lukisan yang menyerupai wajahku setelah nestapa meriasi wajahku dengan semburat wajahnya.Kenestapaan memang senantiasa menjenterai mataku yang selalu mengimpikan keindahanmu dan menyeka bibirku yang telah engkau basahi dengan ciumanmu hingga kerontang.Kekasihku, dimanakah engkau kini? Apakah engkau menangkap jeritan ini dari kejauhan sana? Apakah engkau masih memahami hasratku? Apakah engkau masih menggenggam jayanya ketabahanku?Adakah jiwa mampu menyampaikan desahan nafas terakhir dari seutas masa remaja yang tengah sekarat ini? Apakah jalan rahasia yang membentang di antara para malaikat dapat menyampaikan padamu segala rengsaku ini?Duhai bintang kejoraku, di manakah engkau? Hidupku hampa tanpa kehadiranmu, lantaran nestapa telah menjamahku. Tebarkanlah senyum manismu ke angkasa, niscaya ia mampu menghidupkanku lagi. Tebarkanlah indahmu ke angkasa, niscaya ia akan menyemangatkanku.Duhai kasih, dimanakah engkau? Kutau betapa agungnya cinta dan betapa. Kerdilnya aku.
